Jejak di Lubuk Hati

Jejak di Lubuk Hati

Malam ini hujan turun pelan. Aku duduk di beranda rumah tua ini, mendengarkan tetesannya yang berirama. Seperti lagu yang pernah kita nyanyikan bersama dulu.

Sudah beberapa tahun berlalu, namun namamu masih terpatri jelas di setiap sudut ingatanku. Bukan karena aku tak mau melupakan, tapi karena beberapa orang memang lahir untuk tinggal selamanya dalam jiwa kita. Seperti tato yang tak bisa dihapus, seperti bekas luka yang telah menjadi bagian dari kulit.

Aku ingat sore itu ketika kau berkata akan pergi. Matamu berkaca-kaca, suaramu bergetar. “Ini yang terbaik untuk kita berdua,” katamu. Aku hanya diam, menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta kadang memang harus berakhir bukan karena sudah tak ada lagi, tapi karena keadaan yang memaksa.

Sekarang, dalam sepi malam yang basah ini, aku memahami. Cinta yang sejati bukan soal memiliki. Cinta yang sejati adalah tentang tetap mengasihi meski harus melepas. Tentang mendoakan kebahagiaan seseorang meski ia kini berjalan di jalan yang berbeda.

Angin malam menyentuh wajahku, membawa aroma melati dari halaman. Aroma yang selalu mengingatkanku padamu. Dulu kau bilang, melati itu seperti cinta—sederhana tapi harum yang tertinggal tak mudah hilang.

Aku tersenyum dalam kelam. Mungkin inilah yang disebut dewasa—ketika kita belajar bahwa melepas seseorang dengan ikhlas justru cara paling indah untuk tetap mengasihinya. Ketika kita paham bahwa beberapa cerita memang ditulis untuk berakhir, namun makna yang ditinggalkannya tetap abadi.

Namamu masih terukir di lubuk hatiku. Tapi kini, alih-alih menjadi luka, ia telah menjadi kekuatan. Pengingat bahwa aku pernah mencintai dan dicintai dengan tulus. Bahwa meski cinta itu berakhir, ia telah mengajarkanku arti keikhlasan yang sesungguhnya.

Hujan mulai mereda. Di langit, bintang-bintang perlahan menampakkan diri. Seperti harapan-harapan kecil yang mulai tumbuh di hatiku. Bahwa suatu saat nanti, ketika luka ini benar-benar sembuh, aku akan bisa tersenyum ketika mendengar namamu disebut. Bukan lagi dengan sedih, tapi dengan rasa syukur.

Karena kau telah menjadi bagian dari ceritaku. Bagian yang indah, meski harus berakhir.

Dan dalam doaku malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, aku masih meminta yang terbaik untukmu. Di manapun kau berada, dengan siapapun kau berjalan, semoga kau bahagia.

Itu saja yang aku minta. Kebahagiaanmu. Karena cinta yang sejati selalu dimulai dan diakhiri dengan doa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kita semua sedang dalam perjalanan yang panjang—melewati tikungan sunyi dan jalanan tak bernama, menyimpan harap di antara debu dan cahaya.

Kadang langkah terasa ringan, kadang tertatih. Namun kita terus melaju, sebab di ujung sana ada makna, yang hanya dapat dijumpai oleh mereka yang tak berhenti berjalan.

Most Recent Posts

© 2023 Created with Royal Elementor Addons