{"id":781,"date":"2025-06-10T12:14:35","date_gmt":"2025-06-10T12:14:35","guid":{"rendered":"https:\/\/www.seplii.my.id\/?p=781"},"modified":"2025-06-13T14:43:11","modified_gmt":"2025-06-13T14:43:11","slug":"test-post","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.seplii.my.id\/index.php\/2025\/06\/10\/test-post\/","title":{"rendered":"Antara rasa takut dan kemanusiaan"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"781\" class=\"elementor elementor-781\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-361a8662 e-flex e-con-boxed wpr-particle-no wpr-jarallax-no wpr-parallax-no wpr-sticky-section-no e-con e-parent\" data-id=\"361a8662\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-3e7f2ac4 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"3e7f2ac4\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\n<p>Senin kemarin saya menyempatkan diri untuk refreshing sejenak; buka lepi, pasang headset, muter film\u2026. #nasib<\/p>\n<p>Kali ini yang jadi sumber kebahagiaan adalah film serial anime dengan judul \u201c<strong>IKOMA : Kabaneri of The Iron Fortress<\/strong>\u201c. Salah satu film animasi dari negara Sakura dengan genre horor. Serialnya tidak banyak, hanya belasan serial.<\/p>\n<p>Film ini menceritakan tentang seorang pemuda bernama Ikoma, yang ingin membuktikan kemampuannya untuk menghadapi Kabane. Kabane sendiri dalam film ini merupakan sosok manusia yang sudah terkontaminasi. Simpelnya kayak mayat hidup dalam film film zombie pada umumnya, yang kerjaannya nyari manusia hidup untuk dimakan. Dalam upayanya itu, Ikoma sempat tergigit oleh Kabane dan akibatnya Ikoma pun terinfeksi. Hanya saja ternyata tubuh Ikoma cukup resisten, walau tidak kebal, namun tubuh Ikoma mampu menahan pengaruh dari infeksi gigitan tersebut. Infeksi yang dialami Ikoma membuat dirinya tidak bisa lagi disebut sebagai manusia namun juga tidak bisa disebut mahluk Kabane. Kabaneri, itulah sebutan untuk situasi yang dialami oleh Ikoma, bukan manusia, bukan pula Kabane\u2026. (untuk cerita selanjutnya silahkan tonton sendiri).<\/p>\n<p>Salah satu dialog yang menarik dari film tersebut yaitu ketika orang orang langsung membunuh\u00a0 siapa saja yang dianggap terinfeksi tanpa pembuktian terlebih dahulu (dengan cara dikarantina selama tiga hari). Pada bagian ini, Ikoma menegur pemimpin rombongan dengan mengatakan bahwa :<\/p>\n<p><strong>Jangan hanya karena rasa takut lalu mereka mulai kehilangan rasa kemanusiaannya\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>Dalam hidup keseharian, tidak jarang kita melakukan hal seperti itu. Masyarakat yang cenderung lebih mudah memberikan komentar pedas untuk hal hal yang tidak sreg di mata mereka dan membuat orang orang mulai hidup dalam ketakutan\u2026. Takut tidak dihargai, takut tidak diterima, takut tidak dianggap keren, takut tidak dihormati, takut tidak mendapat nama, takut dianggap tidak menarik dan rupawan, takut disebut gemuk, takut dianggap tua, takut tidak punya kuota, dan lain sebagainya. Dengan segala kemudahan yang diberikan, ternyata hidup manusia semakin lebih sulit dan ribet. Dan hidup menjadi semakin lebih berat ketika manusia mulai takut karena tidak bisa memenuhi tuntutan jaman yang semakin sulit dan ribet.<\/p>\n<p>Jika berkaca pada diri kita sendiri, mungkin kita bisa bertanya pada diri sendiri\u2026 Seberapa sering kita menjadi kehilangan rasa kemanusiaan kita karena diri kita dipenuhi dengan rasa takut itu sendiri. Tentu kita akan memberikan pembelaan diri, bahwa apa yang kita lakukan karena memang begitulah seharusnya, yups\u2026 mirip kisah tentang seorang gubernur ke-5 dari Provinsi Iudaea Kekaisaran\u00a0Romawi, yang menjabat tahun 26\u201336 M, pada\u00a0zaman kaisar\u00a0Tiberius. Orang yang pernah mewakili pemerintah\u00a0Romawi\u00a0di Yerusalem untuk\u00a0mengadili seseorang yang ditangkap di Taman\u00a0Getsemani.\u00a0<strong>Kita selalu punya alasan untuk membenarkan ketakutan kita.<\/strong><\/p>\n<p>Akan tetapi tentu kita tidak boleh berputus harapan. Akan selalu ada orang orang yang tetap mau memelihara rasa kemanusiaannya walau di sisi lain mereka harus berjuang melawan rasa takutnya.<\/p>\n<p>Jadi, di sisi mana kamu berada sekarang???<\/p>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Senin kemarin saya menyempatkan diri untuk refreshing sejenak; buka lepi, pasang headset, muter film\u2026. #nasib Kali ini yang jadi sumber kebahagiaan adalah film serial anime dengan judul \u201cIKOMA : Kabaneri of The Iron Fortress\u201c. Salah satu film animasi dari negara Sakura dengan genre horor. Serialnya tidak banyak, hanya belasan serial. Film ini menceritakan tentang seorang pemuda bernama Ikoma, yang ingin membuktikan kemampuannya untuk menghadapi Kabane. Kabane sendiri dalam film ini merupakan sosok manusia yang sudah terkontaminasi. Simpelnya kayak mayat hidup dalam film film zombie pada umumnya, yang kerjaannya nyari manusia hidup untuk dimakan. Dalam upayanya itu, Ikoma sempat tergigit oleh Kabane dan akibatnya Ikoma pun terinfeksi. Hanya saja ternyata tubuh Ikoma cukup resisten, walau tidak kebal, namun tubuh Ikoma mampu menahan pengaruh dari infeksi gigitan tersebut. Infeksi yang dialami Ikoma membuat dirinya tidak bisa lagi disebut sebagai manusia namun juga tidak bisa disebut mahluk Kabane. Kabaneri, itulah sebutan untuk situasi yang dialami oleh Ikoma, bukan manusia, bukan pula Kabane\u2026. (untuk cerita selanjutnya silahkan tonton sendiri). Salah satu dialog yang menarik dari film tersebut yaitu ketika orang orang langsung membunuh\u00a0 siapa saja yang dianggap terinfeksi tanpa pembuktian terlebih dahulu (dengan cara dikarantina selama tiga hari). Pada bagian ini, Ikoma menegur pemimpin rombongan dengan mengatakan bahwa : Jangan hanya karena rasa takut lalu mereka mulai kehilangan rasa kemanusiaannya\u00a0 Dalam hidup keseharian, tidak jarang kita melakukan hal seperti itu. Masyarakat yang cenderung lebih mudah memberikan komentar pedas untuk hal hal yang tidak sreg di mata mereka dan membuat orang orang mulai hidup dalam ketakutan\u2026. Takut tidak dihargai, takut tidak diterima, takut tidak dianggap keren, takut tidak dihormati, takut tidak mendapat nama, takut dianggap tidak menarik dan rupawan, takut disebut gemuk, takut dianggap tua, takut tidak punya kuota, dan lain sebagainya. Dengan segala kemudahan yang diberikan, ternyata hidup manusia semakin lebih sulit dan ribet. Dan hidup menjadi semakin lebih berat ketika manusia mulai takut karena tidak bisa memenuhi tuntutan jaman yang semakin sulit dan ribet. Jika berkaca pada diri kita sendiri, mungkin kita bisa bertanya pada diri sendiri\u2026 Seberapa sering kita menjadi kehilangan rasa kemanusiaan kita karena diri kita dipenuhi dengan rasa takut itu sendiri. Tentu kita akan memberikan pembelaan diri, bahwa apa yang kita lakukan karena memang begitulah seharusnya, yups\u2026 mirip kisah tentang seorang gubernur ke-5 dari Provinsi Iudaea Kekaisaran\u00a0Romawi, yang menjabat tahun 26\u201336 M, pada\u00a0zaman kaisar\u00a0Tiberius. Orang yang pernah mewakili pemerintah\u00a0Romawi\u00a0di Yerusalem untuk\u00a0mengadili seseorang yang ditangkap di Taman\u00a0Getsemani.\u00a0Kita selalu punya alasan untuk membenarkan ketakutan kita. Akan tetapi tentu kita tidak boleh berputus harapan. Akan selalu ada orang orang yang tetap mau memelihara rasa kemanusiaannya walau di sisi lain mereka harus berjuang melawan rasa takutnya. Jadi, di sisi mana kamu berada sekarang???<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-781","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.seplii.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/781","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.seplii.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.seplii.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.seplii.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.seplii.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=781"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.seplii.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/781\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":889,"href":"https:\/\/www.seplii.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/781\/revisions\/889"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.seplii.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=781"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.seplii.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=781"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.seplii.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=781"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}