Senin kemarin saya menyempatkan diri untuk refreshing sejenak; buka lepi, pasang headset, muter film…. #nasib Kali ini yang jadi sumber kebahagiaan adalah film serial anime dengan judul “IKOMA : Kabaneri of The Iron Fortress“. Salah satu film animasi dari negara Sakura dengan genre horor. Serialnya tidak banyak, hanya belasan serial. Film ini menceritakan tentang seorang pemuda bernama Ikoma, yang ingin membuktikan kemampuannya untuk menghadapi Kabane. Kabane sendiri dalam film ini merupakan sosok manusia yang sudah terkontaminasi. Simpelnya kayak mayat hidup dalam film film zombie pada umumnya, yang kerjaannya nyari manusia hidup untuk dimakan. Dalam upayanya itu, Ikoma sempat tergigit oleh Kabane dan akibatnya Ikoma pun terinfeksi. Hanya saja ternyata tubuh Ikoma cukup resisten, walau tidak kebal, namun tubuh Ikoma mampu menahan pengaruh dari infeksi gigitan tersebut. Infeksi yang dialami Ikoma membuat dirinya tidak bisa lagi disebut sebagai manusia namun juga tidak bisa disebut mahluk Kabane. Kabaneri, itulah sebutan untuk situasi yang dialami oleh Ikoma, bukan manusia, bukan pula Kabane…. (untuk cerita selanjutnya silahkan tonton sendiri). Salah satu dialog yang menarik dari film tersebut yaitu ketika orang orang langsung membunuh siapa saja yang dianggap terinfeksi tanpa pembuktian terlebih dahulu (dengan cara dikarantina selama tiga hari). Pada bagian ini, Ikoma menegur pemimpin rombongan dengan mengatakan bahwa : Jangan hanya karena rasa takut lalu mereka mulai kehilangan rasa kemanusiaannya Dalam hidup keseharian, tidak jarang kita melakukan hal seperti itu. Masyarakat yang cenderung lebih mudah memberikan komentar pedas untuk hal hal yang tidak sreg di mata mereka dan membuat orang orang mulai hidup dalam ketakutan…. Takut tidak dihargai, takut tidak diterima, takut tidak dianggap keren, takut tidak dihormati, takut tidak mendapat nama, takut dianggap tidak menarik dan rupawan, takut disebut gemuk, takut dianggap tua, takut tidak punya kuota, dan lain sebagainya. Dengan segala kemudahan yang diberikan, ternyata hidup manusia semakin lebih sulit dan ribet. Dan hidup menjadi semakin lebih berat ketika manusia mulai takut karena tidak bisa memenuhi tuntutan jaman yang semakin sulit dan ribet. Jika berkaca pada diri kita sendiri, mungkin kita bisa bertanya pada diri sendiri… Seberapa sering kita menjadi kehilangan rasa kemanusiaan kita karena diri kita dipenuhi dengan rasa takut itu sendiri. Tentu kita akan memberikan pembelaan diri, bahwa apa yang kita lakukan karena memang begitulah seharusnya, yups… mirip kisah tentang seorang gubernur ke-5 dari Provinsi Iudaea Kekaisaran Romawi, yang menjabat tahun 26–36 M, pada zaman kaisar Tiberius. Orang yang pernah mewakili pemerintah Romawi di Yerusalem untuk mengadili seseorang yang ditangkap di Taman Getsemani. Kita selalu punya alasan untuk membenarkan ketakutan kita. Akan tetapi tentu kita tidak boleh berputus harapan. Akan selalu ada orang orang yang tetap mau memelihara rasa kemanusiaannya walau di sisi lain mereka harus berjuang melawan rasa takutnya. Jadi, di sisi mana kamu berada sekarang???
Sampai kapan ?
Tidak jarang dalam pengembaraan hidup kita, kita terhenti sejenak hanya untuk menjawab sebuat pertanyaan random dalam benak kita…. Sampai kapan ? Apanya yang sampai kapan ?Tentu bisa berbagai hal… Sampai kapan … … mau kayak gini terus?… mau kayak gitu terus?… mau marah sama dia?… mau kecewa dengan sikap dia?… mau pura-pura bahagia?… pura pura tidak tahu?… membenci orang lain sekuat tenaga?… merasa sakit hati terus?… terus menerus menyimpan prasangka?… cuek dengan perasaan dia?… mempertahankan hal yang tidak ada ujungnya?… hidup sendiri? … dan seterusnya…… dan lain lain…… dan sebagainya… Seringkali heningnya malam menjadi riuh dengan berbagai pertanyaaan yang muncul…Mau dibawa kemana hidup ini?Jika sekedar hidup, bukankah babi juga hidup? Tidak jarang lalu hati bekerjasama dengan otak…Membanding-bandingkan diri sendiri dengan hidup oang lain yang lebih bahagia, sukses dan lain-lain…Ahh capek rasanya….
Percayakah kau pada impianmu?
pagi ini ku melihat pada seseorang yang sedang mempertanyakan impian hidupnya, tentang apa dan mengapa ia ada di sini…suatu usaha untuk mengerti maksud dan keberadaannya.dan dalam pencaharian berkelanjutan terhadap diri sendiri, ada hari hari dimana kita mempelajari sesuatu yang benar benar baru…dan selama pencarian diri berlanjut, kita mencari jawaban di segala tempat…di alam…pada orang orang disekitar kita…pada Tuhan…pada peristiwa-peristiwa kecil yang mungkin tidak dapat kita pahami…tapi kita tetap saja melakukannya…mencoba memahami pesan pesan yang diberikan oleh alam kepada kitatak peduli bagaimana akhirnya nanti…dan pada akhirnya…persahabatan kita dengan orang lain mungkin akan tersakiti…hubungan yang selama ini kita coba untuk pertahankan mungkin akan hancur tak berbentuk…bahkan mungkin kita akan mempertaruhkan hal-hal yang sangat kita sayangi…lalu keesokan hari… ketika kita terbangun…tiba tiba saja kita mengalami perubahan dalam hidup…hal-hal yang seharusnya indah ternyata berubah menjadi penghianatan mungkin terasa sangat kejam…namun tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk memberikan pelajaran hiduptentang bagaimana kita harus bertahan hidup…mungkin kita akan pergi untuk bersembunyi dari hal hal yang menyakiti kita…dari orang orang di sekitar kita…dari peristiwa peristiwa yang tidak kita pahami…dari impian impian kita…dari Tuhan sendiri…dan jika tempat persembunyianmu masih terasa jauh…maka berlarilah…namun…terkadang, bukan kita yang memilih impian impian kita…namun tujuanlah yang memilih kita…dan merekalah yang tahu apa yang akan terjadi jauh sebelum nasib membawa kita…dan tanpa kita sadari…telah terjadi begitu besar perubahan dalam diri kita…. buat engkau yang tengah bimbang….apapun pesan pesan yang telah engkau tangkap dari alam…pahamilah…biarkan hati yang mengiringmu…pada akhirnya… biarkan ia yang menghantarmu…kepada apa yang telah menjadi impianmu….kepada apa yang telah menjadi harapanmu…dan…jika pada akhirnya engkau telah berhadapan dengannya…satu pesanku….jangan khianati impianmu…